
Website dan Virtual Tour Pura Gelang Agung
Website Pura Gelang Agung
Website ini mengusung tema “Virtual Reality Experience”. Fokus utamanya adalah optimalisasi warisan budaya melalui teknologi Virtual Tour 360 derajat. Hal ini memungkinkan pengunjung untuk mengeksplorasi area pura secara digital, memberikan aksesibilitas ke area suci (Jeroan) tanpa melanggar norma kesucian pura secara fisik. Website secara tegas menginformasikan bahwa Pura Gelang Agung telah diresmikan sebagai Cagar Budaya sejak tahun 2008 oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali. Fokus konservasinya mencakup benda-benda arkeologi seperti arca, lingga-yoni, dan fragmen candi yang masih disakralkan.
” Sebagai pusat data digital mengenai sejarah, filosofi, dan nilai spiritual Pura Gelang Agung Getasan. Dengan mendokumentasikan aset arkeologi website ini berfungsi menjaga memori kolektif masyarakat agar tetap dapat diakses oleh generasi mendatang “
Virtual Tour
Virtual tour adalah teknologi simulasi berbasis internet yang memungkinkan pengguna menjelajahi suatu lokasi secara 360 derajat melalui komputer atau smartphone. Ini menciptakan pengalaman imersif, seolah-olah pengguna berada langsung di tempat tersebut. Virtual tour terdiri dari gabungan foto atau video panorama interaktif. Virtual tour sangat populer karena efisiensi waktu dan biaya, terutama untuk melakukan survei lokasi atau kunjungan museum secara jarak jauh. Berikut adalah poin-poin penting mengenai virtual tour :
-
Pengalaman Imersif : Memberikan sensasi "berada di sana" yang tidak bisa didapatkan dari foto biasa.
-
Fungsi Utama : Digunakan sebagai alternatif berwisata, pemasaran properti/real estate, edukasi, dan pameran.
-
Komponen : Melibatkan gambar panorama 360 derajat, video, audio, narasi, dan teks.
-
Interaktif : Pengguna dapat berpindah antarruang atau titik pandang secara mandiri.
-
Jenis : Terdapat dua jenis, yaitu yang dipandu langsung oleh guide dan self-guided (menjelajah sendiri).
Jadwal Odalan



- 210 Hari
- Pura Gelang Agung
Piodalan Penyabeh Jero
Piodalan Menyabeh Jero adalah salah satu tahapan penting dalam rangkaian upacara piodalan di pura-pura Bali. Istilah menyabeh jero berasal dari kata menyabeh yang berarti “menyapa” atau “menyambut”, dan jero yang berarti “bagian dalam pura”



- 210 Hari
- Pura Gelang Agung
Piodalan Alit
Piodalan alit adalah piodalan berskala kecil, yang biasanya dilaksanakan setiap enam bulan sekali (210 hari) berdasarkan perhitungan kalender Bali (satu siklus wuku).Upacaranya sederhana, melibatkan pemangku dan krama pengempon pura.



- 210 Hari
- Pura Gelang Agung
Piodalan Agung
Piodalan ageng adalah piodalan berskala besar, biasanya dilaksanakan setahun sekali atau dalam kurun waktu tertentu. Upacara ini lebih meriah dan sakral, melibatkan seluruh krama desa adat, pemangku, serta prosesi besar seperti nedunang Ida Bhatara
Situs Arkeologi
Gedong Sari
Pelinggih suci di pura Bali yang berfungsi sebagai tempat berstananya (bersemayam) para dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Arca Wisnu Diatas Wimana
Arca Wisnu duduk diatas Wimana, memakai mahkota jatamakuta bagian muka aus.
Bale Kulkul
Berfungsi sebagai empat untuk menggantung kulkul yang digunakan sebagai alat komunikasi tradisional.
Pura Gelang Agung
Pura gelang agung terdiri dari 3 halaman yaitu : halaman dalam (Jeroan), halaman tengah (Jaba Tengah), halaman luar (Jaba Sisi)
Tri Mandala
Pura Gelang Agung Desa Pakraman Getasan
Nista Mandala
Pura adalah tempat atau bangunan suci yang merupakan suatu nyasaatau simbul, sehingga bentuk dan strukturnya didasarkan atas konsepsi filosofis tertentu sebagai landasannya. Inti landasan filosofisnya berdasarkan pada kosmologi Hindu yang memandang bahwa dunia ini terdiri atas susunan yang berlapis-lapis yang disebut dengan istilah lokadan tala. Sebagai replika dari makrokosmos, pura dibagi menjadi beberapа halaman sebagai simbul dari lokadan tala tersebut. Sebagai contoh Pura Gelang Agung memliki 3 halaman yaitu merupakan simbul dari Triloka, yaitu: bhur, bwah dan swah loka. Dimasing-masing halaman atau mandala dilengkapi dengan bangunan pelinggih, bangunan pelengkap dan bangunan penunjang. Nista Mandala adalah bagaian paling depan pada sebuah pura. Dapat dijabarkan secara lengkap Nista Mandala Nista Mandala (atau Jaba Pisan/Kanistama Mandala adalah zona atau halaman terluar dari struktur tempat suci (pura) dalam tradisi Hindu Bali. Ini merupakan batas pintu masuk dari lingkungan luar, sering berupa lapangan atau taman, yang digunakan untuk persiapan upacara, parkir, dan pementasan seni. Nista Mandala ini adalah area terluar yang berbatasan langsung dengan area non-pura, sering ditandai dengan adanya Candi Bentar (gapura terbelah). Pada bagian ini, Nista Mandala difungsikan sebagai Tempat persiapan Yajña (upacara) seperti membuat penjor, tempat persiapan banten/sesajen, dan pementasan tari keagamaan. Pada bagian ini terdapat Bale Kulkul (tempat kentongan) saja. Dalam konsep Tri Mandala (pembagian zona pura), Nista Mandala melambangkan kaki dari tubuh manusia atau bagian yang kurang sakral dibandingkan Madya Mandala (tengah) dan Utama Mandala (dalam).
- Pura Gelang Agung - Desa Getasan
- Madya Mandala
Madya Mandala
Madya Mandala adalah halaman atau zona tengah dalam konsep Tri Mandala (pembagian tata ruang pura) di Bali, yang berfungsi sebagai area peralihan antara area luar (Nista Mandala) dan area paling suci (Utama Mandala). Area ini disebut juga jaba tengah dan merupakan tempat dilakukannya aktivitas persiapan upacara atau tempat aktivitas sosial umat. Secara Fungsi, Area peralihan/antara, tempat persiapan ibadah, tempat aktivitas sosial umat (semi-privat), dan tempat pertunjukan seni seperti tarian. Pada Tata Terletak di antara Nista Mandala (area terluar) dan Utama Mandala (area terdalam/paling suci). Bangunan yang terdapat pada bagian Madya Mandala di Pura Gelang Agung meliputi, Bale Gong (tempat gamelan), Apit Lawang, Candi Bentar, Pelinggih Panggungan Catur, dan Perantenan (dapur suci). Pada hakikatnya di Madya Mandala memliki Akses terhubung dengan Nista Mandala melalui Candi Bentar dan dengan Utama Mandala melalui Kori Agung (pintu gerbang utama). Dalam hierarki kesucian, Madya Mandala adalah tempat umat mulai memfokuskan pikiran (konsentrasi) sebelum memasuki area suci utama. Madya Mandala termasuk tempat ritus atau upacara awal dilakukan sebelum seseorang memasuki daerah utama yang lebih suci.
Madya Mandala adalah daerah yang berada di antara Utama Mandala dan Nista Mandala. Bagian ini berupa lorong atau halaman yang mendekati pusat suci. Pengunjung berkesempatan untuk memperdalam konsentrasi untuk meningkatkan spiritualitas mereka.
- Pura Gelang Agung - Desa Getasan
- Nista Mandala
Utama Mandala
Utama Mandala merupakan daerah tersuci dan terdalam yang ada di tempat ibadah. Tempat ini berupa kuil, candi, atau struktur suci lainnya yang biasanya dijadikan sebagai tempat ritual atau pemujaan dilakukan. Hanya orang-orang yang telah melewati Nista Mandala dan Madya Mandala yang diperbolehkan memasuki Utama Mandala. Para pemuja di tempat ini melakukan meditasi, doa, atau ritus keagamaan lainnya. Konsep ini bukan hanya dijumpai dalam agama Hindu, melainkan juga banyak diaplikasikan dalam arsitektur Buddha. Mandala merepresentasikan struktur alam semesta dan sering dianggap sebagai simbolik kosmos. Utama Mandala adalah zona paling suci, terdalam, dan sakral dalam konsep tata ruang pura di Bali (Tri Mandala), yang difungsikan khusus sebagai tempat persembahyangan utama atau pemujaan kepada Sang Hyang Widhi. Zona ini disebut juga Jeroan atau Jaba Jero, yang melambangkan tingkat kesucian tertinggi. Secara fungsi Area ini diperuntukan sebgai tempat meditasi, doa, dan ritual keagamaan (Yajña). Posisi atau letak area ini Merupakan area paling dalam atau terujung, berlawanan dengan Nista Mandala (luar) dan Madya Mandala (tengah). Bangunan Suci yang terdapat Di area ini umumnya terdapat Padmasana (takhta suci), Pelinggih Meru, Bale Piyasan, Bale Pawedan, dan Gedong Penyimpenan. Secara harfiah, area ini hanya diperuntukkan bagi umat yang akan bersembahyang, setelah melewati area nista dan madya mandala.
- Pura Gelang Agung - Desa Getasan
- Utama Mandala
Lokasi Pura
Pura Gelang Agung - Getasan
Menelusuri jejak sejarah di Pura Gelang Agung, sebuah situs cagar budaya yang telah ditetapkan sejak tahun 2008. Pura ini terletak di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada ketinggian 411 mdpl.
Alamat
Jalan Ayung XIII, Banjar, Jl. Buangga, Getasan, Kec. Petang, Kabupaten Badung, Bali 80353, Indonesia
Jadwal Kegiatan
- Umanis -
- Paing Rabu -
Pura Gelang Agung Getasan
Keunggulan Platform
Implementasi Virtual Tour Reality pada Situs Cagar Budaya seperti Pura Gelang Agung memberikan dimensi baru yang tidak bisa dicapai hanya dengan website statis atau galeri foto biasa. Berikut adalah keunggulan utama platform Virtual Tour Reality dibandingkan website konvensional untuk Pura Gelang Agung :
Pengalaman Yang Impreshif
Pengguna bisa menoleh ke segala arah, melihat detail ukiran pada pelinggih, hingga mengamati struktur Pura seolah-olah sedang berdiri di sana.
Aksesbilitas
Pura memiliki area suci tertentu yang tidak boleh dimasuki sembarang orang sehingga masyarakat umum untuk tetap melihat area Jeroan tanpa melanggar norma kesucian pura
Digitalisasi
Dokumentasi digital yang sangat detail. Jika terjadi kerusakan fisik pada bangunan asli akibat faktor alam, data dari VTR bisa menjadi referensi akurat.
Media Promosi Wisata
Pengguna memegang kendali penuh atas navigasi mereka, menciptakan pengalaman personal yang lebih membekas daripada sekadar menonton video promosi.