- Home
- Sejarah
Sejarah Pura
Situs Arkeologi yang menyimpan jejak peradaban dari masa prasejarah hingga masa klasik (Hindu-Buddha) di Bali.
Sejarah Pura Gelang Agung
Sebelum membahas sejarah Pura Penataran Gelang Agung, akan diuraikan terlebih dahulu mengenai sejarah awal terbentuknya Desa Getasan. Keberadaan Desa Getasan terkait dengan sebuah kerajaan yang berdiri di Ubud. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang bernama I Gusti Ngurah Sampalan. Beliau adalah seorang raja yang pandai, bijaksana dan mengatur jalannya roda pemerintahan dengan sangat adil. Sejak kekuasaan beliau, masyarakat Ubud merasa sangat aman, tentram, dan kerta raharja, disamping beliau pintar mengatur roda pemerintahan, beliau sangat mencintai rakyatnya dan juga sangat mengasihi seluruh keluarga kerajaan, I Gusti Ngurah Sampalan mempunyai seorang adik laki-laki bernama I Gusti Ngurah Ubud dan juga sangat pintar dan bijak. Pada suatu ketika di Istana Kerajaan terjadi selisih paham antara kakak dan adik (I Gusti Ngurah Sampalan dengan I Gusti Ngurah Ubud) perselisihan ini sampai berkepanjangan dan tidak dapat didamaikan oleh siapapun juga.
” Pura Penataran Gelang Agung dilihat dari struktur halamannya dan apabila dikaitkan dengan uraian mengenai struktur pura yang disebutkan di atas, dapat dikatagorikan sebagai pura yang memiliki tiga halaman atau trimandala, yaitu nista mandala, madya mandala dan utamaning mandala. “
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan demi tegaknya wibawa kerajaan I Gusti Ngurah Ubud yang sangat bijaksana itu mengalah dan minta doa restu dari kakaknya serta mohon diri untuk pergi meninggalkan kerajaan dengan 100 orang pengiring, pada sore hari pada saat matahari mulai terbenam sampailah beliau di tengah tengah hutan tepatnya di Desa Kearang dalem pada saat ini dan beliau memerintahkan seluruh pengiring untuk istirahat. Pada keesokan harinya beliau beserta segenap pengikutnya menerobos hutan belantara menuju arah utara melewati daerah Samuan, Carangsari, dan Telutug. Sampailah beliau di kawasan Hutan Mangga/Poh/Getas yang sangat lebat, dari beberapa pengikut beliau menyarankan untuk istirahat (mesandekan) pada waktu itu bertepatan dengan hari Jumat Keliwon, Wuku Merakih, Titi Tengek Ping Telulas, Sasih Kelima, Rah Pat, Teng Lima, Isaka Muka Yusaning Rat Telungatak Skeet Pat.
Peninggalan Arkeologi
Gedong Sari
Pelinggih suci di pura Bali yang berfungsi sebagai tempat berstananya (bersemayam) para dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Arca Wisnu Diatas Wimana
Arca Wisnu duduk diatas Wimana, memakai mahkota jatamakuta bagian muka aus.
Bale Kulkul
Berfungsi sebagai empat untuk menggantung kulkul yang digunakan sebagai alat komunikasi tradisional.
Pura Gelang Agung
Pura gelang agung terdiri dari 3 halaman yaitu : halaman dalam (Jeroan), halaman tengah (Jaba Tengah), halaman luar (Jaba Sisi)



Sumber Gambar : Dokumentasi Oleh I Wayan Adit Darma, Februari 2026
Sejarah Administratif Desa Getasan
Dalam benak I Gusti Ngurah Ubud terbersit keinginan untuk menetap dan mendirikan sebuah rumah (Jero) di kawasan Hutan Poh, keinginan ini disampaikan pada para pengikutnya, semua para pengikut menyetujui. Maka dibangunlah sebuah jero yang diperuntukkan bagi I Gusti Ngurah Ubud, dan para pengikut membangun rumah tinggal di sekitar Jero, oleh karena yang dijadikan tampat tinggal ini merupakan Hutan Poh Getas, maka I Gusti Ngurah Ubud memberi nama Jero ini dengan nama Jero Getas, lama kelamaan sebutan ini menjadi Jero Getasan.Setelah sekian lama menetap pengikut I Gusti Ngurah Ubud bertambah banyak, maka dibentuklah sebuah desa yang di beri nama Desa Getasan yang terdiri dari 4 kelompok yaitu:Kelompok Ubud, Kelompok Tengah, Kelompok Kauh dan Kelompok Buangga. Demikianlah sedikit sejarah lahirnya Desa Getasan dimana Pura Penataran Gelang Agung berlokasi. Sedangkan untuk keberadaan Desa Dinas Getasan tidak dapat dipisahkan dari Desa Carangsari, karena pada awalnya Desa Getasan tergabung dalam Desa Dinas Carangsari. Desa Carangsari sangat luas dan memiliki 12 (dua belas) banjar dinas, maka timbul wacana dari para tokoh-tokoh masyarakat desa untuk mengajukan pemekaran desa, sejalan waktu dengan penggodokan wacana, pemekaran desa disetujui oleh Gubernur Bali dengan Keputusan Nomor 273 Tahun 1999, sejalan dengan waktu dan pembinaan-pembinaan yang diberikan oleh Tim Pembina Kabupaten Badung dan juga evaluasi-evaluasi yang dilakukan, maka Desa Persiapan Getasan, telah memenuhi persyaratan untuk dijadikan desa difinitif. Desa Persiapan Getasan ditetapkan menjadi desa difinitif dengan Surat Keputusan Bupati Badung Nomor 342 Tahun 2002 Tentang Penetapan Desa Persiapan Getasan menjadi desa difinitif di Kabupaten Badung. Desa Difinitif Getasan terdiri dari 4(empat) banjar dinas yaitu : Banjar Dinas Ubud, banjar Dinas Kauh, Banjar Dinas Tengah dan Banjar Dinas Buangga. Setelah uraian sejarah terbentuknya Desa Getasan seperti disebutkan di atas, berikut ini akan diuraikan mengenai sejarah keberadaan Pura Penataran Gelang Agung. Sejarah keberadaan Pura Penataran Gelang Agung sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, karena belum ada data tertulis mengenai hal tersebut. Keberadaan Pura Penataran Gelang Agung hanya didapat dari cerita atau oral story. Hal ini seperti diungkapkan oleh pemangku Pura Penataran Gelang Agung yang menyebutkan bahwa sebelum berdirinya Pura Penataran Gelang Agung wilayah ini adalah areal persawahan. Pada masa lalu oleh penduduk setempat konon ditemukan gelang tembaga dalam jumlah yang sangat banyak dan tersebar di seluruh areal persawahan tersebut. Setelah penemuan tersebut, gelang-gelang itu sirna tanpa bekas/menghilang. Menurut ceritanya salah seorang pemangku pura sebelumnya, pernah mendapatkan salah satu dari gelang tersebut tetapi dikembalikan ke tempatnya semula. Entah bagaimana cerita selanjutnya tidak diketahui secara pasti dan terputus sampai di sana. Berdasarkan informasi pula bahwa pura ini didirikan setelah Ida Bethara Sakti Wawu Rawuh mendirikan parhyangan di Pura Pucak Bon Desa Plaga. Terkait dengan pendirian dan nama Pura Penataran Gelang Agung kemungkinan sehubungan dengan ditemukannya banyak gelang tembaga di areal persawahan tersebut. Berdasarkan tinggalan arkeologi yakni berupa arca-arca yang ada, Pura Penataran Gelang Agung adalah tergolong tua karena arca-arca yang terdapat di pura tersebut. Selanjutnya dari hasil-hasil ekskavasi yang telah dilakukan oleh Balai Arkeologi menunjukkan adanya pondasi bangunan dan tembok keliling yang diperkirakan merupakan pondasi bangunan candi. Hal ini juga menunjukkan bahwa kemungkinan di areal Pura Penataran Gelang Agung pernah berdiri bangunan candi.
Pura Gelang Agung Getasan
Keunggulan Platform
Implementasi Virtual Tour Reality pada Situs Cagar Budaya seperti Pura Gelang Agung memberikan dimensi baru yang tidak bisa dicapai hanya dengan website statis atau galeri foto biasa. Berikut adalah keunggulan utama platform Virtual Tour Reality dibandingkan website konvensional untuk Pura Gelang Agung :
Pengalaman Yang Impreshif
Pengguna bisa menoleh ke segala arah, melihat detail ukiran pada pelinggih, hingga mengamati struktur Pura seolah-olah sedang berdiri di sana.
Aksesbilitas
Pura memiliki area suci tertentu yang tidak boleh dimasuki sembarang orang sehingga masyarakat umum untuk tetap melihat area Jeroan tanpa melanggar norma kesucian pura
Digitalisasi
Dokumentasi digital yang sangat detail. Jika terjadi kerusakan fisik pada bangunan asli akibat faktor alam, data dari VTR bisa menjadi referensi akurat.
Media Promosi Wisata
Pengguna memegang kendali penuh atas navigasi mereka, menciptakan pengalaman personal yang lebih membekas daripada sekadar menonton video promosi.